jpnn.com, JAKARTA - Pembangunan rumah hunian tetap (huntap) bagi warga terdampak erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), mulai berjalan. Pembangunan tersebut difokuskan pada empat titik lokasi relokasi.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengatakan bahwa pembangunan huntap tersebut dilaksanakan oleh Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) sebagai bagian dari tahap rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.
"Saat ini, dari empat titik huntap yang direncanakan, dua di antaranya telah memasuki tahap pembangunan atau on going, sementara dua lokasi lainnya masih dalam tahap persiapan teknis dan pematangan lahan," kata dia dikonfirmasi di Jakarta, Rabu.
Dia membenarkan proses pembangunan huntap sempat mengalami beberapa kali penundaan akibat penyesuaian lokasi. Salah satu titik yang sebelumnya direncanakan berada di Noboleto harus dipindahkan karena kondisi kemiringan tanah yang terlalu tinggi.
Karakteristik lahan berupa bukit batu yang memerlukan proses pematangan lahan atau cut and fill yang cukup kompleks sehingga membutuhkan waktu tambahan sebelum konstruksi dapat dimulai.
Kendati demikian, kata dia, BNPB memastikan seluruh penyintas yang sebelumnya bertahan mengungsi di tenda telah dipindahkan ke rumah hunian sementara sehingga tidak ada lagi warga yang tinggal di tenda darurat.
Erupsi Gunung Lewotobi Laki-laki di Flores Timur dengan dampak signifikan itu terjadi November 2024 dan Maret 2025.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan saat erupsi pada Maret 2025 terjadi letusan hebat dengan kolom abu mencapai 8.000 meter dan aktivitas berlanjut hingga Oktober 2025 dengan puluhan erupsi dalam sepekan.









































