jpnn.com - JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mengungkapkan penyebab harga sayuran yang belakangan mahal, sehingga memicu banyak keluhan dari pedagang warteg.
Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini menjelaskan kenaikan harga sayuran terjadi karena faktor musiman, yang dipengaruhi peningkatan permintaan lantaran adanya hari besar keagamaan.
"Memang komunitas ini masuk ke kelompok harga barang yang bergejolak ya, jadi ini bersifat musiman," kata Pudji di kantornya, Selasa (2/6).
Selain itu, kenaikan harga sayuran juga dipengaruhi penurunan produksi pada Mei 2026, yang berimbas pada sejumlah komoditas.
Kemudian adanya penurunan hasil panen cabai di sejumlah daerah, mulai dari Garut, Malang dan Temanggung.
Terjadi juga penurunan produksi bawang merah di beberapa daerah, akibat cuaca ekstrem hingga gangguan organisme.
Lantaran kondisi tersebut, sejumlah komoditas ini pun menjadi peyumbang besar dalam andil inflasi Mei 2026, secara bulanan (m-to-m).
Cabai merah tercatat memberikan inflasi 0,08%, sementara bawang merah sebesar 0,04%.






































