jpnn.com, JAKARTA - Moody’s Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia di level Baa2 dengan status investment grade, namun mengubah outlook menjadi negatif.
Wakil Ketua Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDIP, Dolfie O.F.P., menegaskan hal ini sebagai cermin bagi pemerintah untuk segera berbenah. Menurutnya, masalah utama yang disorot bukan lagi soal kapasitas ekonomi, melainkan kualitas tata kelola dan konsistensi kebijakan.
Moody’s memberikan catatan khusus pada beberapa sektor yang dianggap berisiko, seperti ketidakpastian dan inkonsistensi arah kebijakan, lemahnya komunikasi publik yang memicu spekulasi, risiko fiskal dari lonjakan belanja sosial, serta kekhawatiran terkait kerangka fiskal dan independensi Bank Indonesia di masa mendatang.
"Penurunan outlook menjadi negatif adalah peringatan serius. Ini bukan soal angka semata, tapi soal kepercayaan pasar terhadap bagaimana kita mengelola negara," ujar Dolfie dalam keterangan resminya.
Ia memaparkan, jika tidak direspons dengan perbaikan nyata, Indonesia terancam menghadapi kenaikan biaya utang negara, meningkatnya volatilitas pasar keuangan, hingga terhambatnya arus investasi.
Dolfie mengatakan, Komisi XI DPR RI mendorong pemerintah bersama otoritas moneter dan sektor keuangan untuk segera mengeluarkan kebijakan yang cepat, tepat, dan kredibel.
"Peringatan dari Moody’s sudah di depan mata. Mari kita jadikan ini sebagai momentum pembenahan total untuk memperkuat stabilitas ekonomi nasional dan memastikan kepercayaan investor tetap terjaga," pungkasnya. (tan/jpnn)






.jpeg)



































