jpnn.com - Ketua Umum Keluarga Besar Putra Putri (KBPP) Polri periode 2015-2021 AH Bimo Suryono mengatakan demokrasi memberi ruang luas bagi kebebasan berekspresi. Namun, kebebasan itu bukan tanpa batas.
Bimo menilai pertunjukan stand-up comedy Panji Pragiwaksono berjudul ‘Mens Rea’, menjadi contoh bagaimana kebebasan berekspresi dapat memicu kegaduhan ketika dilepaskan dari konteks dan tanggung jawab sosial.
Menurutnya, kebebasan berekspresi itu dibingkai oleh etika publik, tanggung jawab sosial dan kesadaran atas momentum kebangsaan.
“Di saat rakyat berharap narasi persatuan dan semangat kebangsaan, publik justru disuguhi konten yang mempersoalkan dan menertawakan figur-figur negara serta institusi strategis," kata Bimo melalui keterangannya pada Rabu (7/1).
Sebagai bagian dari masyarakat sipil yang menghargai demokrasi, Bimo menegaskan bahwa kritik adalah hal yang sah dan tidak boleh dibungkam. Sebab, kata dia, kritik adalah bagian penting dari demokrasi.
Namun, lanjutnya, menjadikan pemimpin nasional dan simbol negara sebagai bahan ejekan dalam sebuah panggung terbuka adalah bentuk ketidakpekaan etika publik.
“Ini bukan soal antikritik, melainkan soal cara, waktu, dan dampaknya. Kritik yang sehat seharusnya membangun kesadaran dan kedewasaan publik, bukan memproduksi sinisme kolektif yang justru melemahkan kepercayaan masyarakat terhadap negara,” tegas dia.
Herannya, kata Bimo, figur lain seperti Anies Baswedan tidak disentuh sama sekali, sehingga memunculkan persepsi keberpihakan Panji.















































