jpnn.com, JAKARTA - Masalah stunting di Sumatera Selatan (Sumsel) memicu langkah taktis dari sektor sukarelawan program Makanan Bergizi Gratis (MBG) Tri Yulia Rizki Ananda, pelopor MBG di Sumsel mulai mengoperasikan dapur sehat sejak 6 Januari 2025, sebagai upaya intervensi langsung terhadap kualitas gizi anak-anak di wilayah tersebut.
Langkah ini bukan sekedar aksi sosial, melainkan respons terhadap urgensi perbaikan gizi nasional yang diinisiasi Presiden Prabowo Subianto.
Tri menegaskan bahwa fokus utama program Presiden tersebut adalah untuk menurunkan prevalensi stunting yang masih menjadi ancaman bagi kualitas generasi mendatang di Sumsel.
"Motivasi awal kami adalah stunting. Kami ingin meningkatkan kualitas gizi anak-anak sekaligus menurunkan angka stunting di Sumsel,” tegas Tri, Senin (20/4/2026).
Namun, membangun gerakan sosial berbasis pangan bukan perkara mudah. Tantangan terbesar justru datang dari masyarakat itu sendiri, terutama dalam membangun kepercayaan dan kolaborasi.
“Di lapangan, yang paling sulit adalah bagaimana masyarakat bisa menerima dan mau bekerja sama dengan program ini,” ungkap Tri.
Untuk menjawab tantangan tersebut, dirinya tidak hanya fokus pada distribusi makanan, tetapi juga pada kualitas dan keamanan. Ia memastikan setiap relawan yang terlibat mendapatkan pelatihan khusus, mulai dari penanganan makanan, sertifikasi higienis, hingga standar halal.
Dengan bekal itu, dapur MBG tidak sekadar memasak, tetapi juga menjaga standar kesehatan agar makanan yang disajikan tetap steril hingga sampai ke tangan penerima manfaat.








































