jatim.jpnn.com, SURABAYA - National Hospital Surabaya memperkuat akses terapi berbasis sel punca, dengan menggandeng salah satu perusahaan terkemuka di bidang terapi sel dan gen, CryoCord Indonesia.
Kerjasama ini berlangsung di National Hospital, oleh Chief Executive Officer National Hospital Surabaya, Ang Hoey Tiong, CIO National Hospital Alexander Ang, Direktur National Hospital dr. Hendera Henderi, Sp.OG, MHPM, serta Perwakilan CryoCord Indonesia Daniel Limanto, dan Managing Director CryoCord Group James Then.
Direktur National Hospital dr Hendera Henderi mengatakan, kolaborasi ini mencerminkan kesamaan pandangan dan komitmen kedua organisasi untuk mewujudkan penyelenggaraan terapi sel punca yang aman, etis, bertanggung jawab yang sejalan dengan regulasi dan standar klinis yang berlaku.
“Selain itu juga akan membuka jalan bagi pasien untuk opsi terapi berbasis sel punca di beberapa bidang medis, antara lain ortopedi dan bedah plastik, sejauh indikasi klinis dan persyaratan regulasi tetap dipatuhi,” ujar dr Hendera, Selasa (7/7).
Menurutnya, dengan menjalin kerjasama yang memadukan pengalaman National Hospital di bidang layanan medis dengan pengalaman CryoCord Group di bidang teknologi sel dan gen, diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi kesinambungan pengembangan kedokteran regeneratif dan layanan kesehatan inovatif di Indonesia.
“Kolaborasi sekaligus menjadi bagian dari komitmen National Hospital untuk terus menghadirkan teknologi medis terkini, inovasi, dan layanan kesehatan berstandar internasional bagi masyarakat Indonesia,” ucapnya.
Dia menambahkan, kerja sama strategis dengan CryoCord dalam bidang stem cell banking dan terapi merupakan salah satu langkah nyata dalam memperluas akses masyarakat terhadap teknologi kesehatan mutakhir tanpa harus mencari layanan ke luar negeri.
“Dukungan tenaga medis yang kompeten, fasilitas modern, serta penerapan standar internasional, National Hospital percaya bahwa masyarakat Indonesia kini dapat memperoleh pelayanan kesehatan berkualitas tinggi di dalam negeri,” kata dr Hendera.




































