jateng.jpnn.com, SEMARANG - Kekeringan yang melanda Dukuh Rejosari, Kelurahan Meteseh, Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, membuat warga harus mengurangi penggunaan air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kondisi tersebut telah berlangsung lebih dari dua bulan. Sumber air dan sumur milik warga mengering sehingga kebutuhan mandi, mencuci, hingga sanitasi menjadi persoalan.
Rusminah, warga RT 7 RW 10 Kelurahan Meteseh, mengatakan kondisi wilayah yang berada di dataran lebih tinggi membuat pembuatan sumur tidak banyak membantu ketika sumber air bawah tanah sulit diperoleh.
Menurut dia, warga sebenarnya pernah mendapatkan akses air melalui program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).
Namun, fasilitas tersebut sudah lama tidak berfungsi karena sumber air yang menjadi tumpuan warga ikut mengering.
“Sekarang kalau mengandalkan sumur sudah tidak bisa. Pamsimas juga sudah lama tidak jalan, jadi kami harus mencari cara lain untuk mendapatkan air,” ujar Rusminah, Kamis (20/8).
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Rusminah kini membeli air galon isi ulang dengan harga sekitar Rp4.000 per galon. Dalam kondisi normal, kebutuhan keluarganya bisa mencapai lima galon dalam sehari, bahkan lebih apabila harus mencuci pakaian.
Penggunaan air pun harus diperhitungkan dengan cermat. Rusminah dan suaminya mengurangi frekuensi mandi agar persediaan air tidak cepat habis.






































