Kebocoran Data Mahasiswa, Bom Waktu di Dunia Pendidikan

1 week ago 38

Selasa, 27 Januari 2026 – 14:09 WIB

Kebocoran Data Mahasiswa, Bom Waktu di Dunia Pendidikan - JPNN.com Jatim

Direktur Direktorat Sistem Informasi (DSI) Yayasan Perguruan 17 Agustus 1945  (YPTA) Surabaya Eko Halim Santoso, S.Kom., M.Kom.A

jatim.jpnn.com, SURABAYA - Ramainya pemberitaan mengenai kebocoran data mahasiswa di sejumlah kampus di Indonesia harus menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan. Isu ini tidak dapat dipandang sebagai persoalan teknis semata, melainkan menyangkut tanggung jawab institusi, budaya literasi digital, serta kesadaran hukum seluruh sivitas akademika. Data pribadi merupakan isu yang sangat sensitif, terlebih ketika menyangkut identitas mahasiswa yang seharusnya dilindungi secara ketat.

Data pribadi bukan sekadar informasi administratif. Ia merupakan aset bernilai tinggi yang apabila bocor dapat menimbulkan dampak jangka panjang, baik secara materiil maupun nonmateriil bagi pemiliknya. Oleh karena itu, institusi pendidikan memiliki kewajiban moral sekaligus hukum untuk menjamin kerahasiaan data mahasiswa. Unit sistem informasi tidak hanya bertugas mengelola teknologi, tetapi juga memastikan tata kelola serta kebijakan perlindungan data dijalankan secara bertanggung jawab.

Percepatan Digital dan Ketimpangan Kesadaran

Pemanfaatan teknologi di dunia pendidikan berkembang sangat pesat. Sistem akademik daring, platform pembelajaran digital, hingga layanan administrasi berbasis teknologi kini menjadi kebutuhan utama. Namun, percepatan digital tersebut belum sepenuhnya diiringi dengan kesadaran yang memadai terkait perlindungan data pribadi.

Peningkatan teknologi informasi kerap tidak sebanding dengan tingkat kehati-hatian penggunanya. Masih banyak sivitas akademika yang belum menyadari bahwa data pribadi adalah aset yang harus dijaga, bukan dibagikan secara sembarangan. Ketimpangan antara kemajuan teknologi dan kesadaran inilah yang menjadi celah utama terjadinya kebocoran data.

Kebocoran Data: Tidak Selalu Soal Serangan Eksternal

Dalam persepsi publik, kebocoran data sering diasosiasikan dengan serangan siber dari pihak luar. Memang benar bahwa serangan eksternal terjadi hampir setiap hari dan tidak dapat dihindari sepenuhnya. Namun, berbagai pengamatan dan kasus menunjukkan bahwa faktor internal justru sering berperan besar.

Lemahnya tata kelola, rendahnya literasi keamanan digital, serta kecerobohan pengguna menjadi penyebab dominan. Contohnya adalah penggunaan kata sandi yang sama di berbagai akun, kurangnya pengamanan berlapis, hingga mudah tertipu oleh modus phishing. Banyak pengguna tanpa sadar memasukkan nama pengguna dan kata sandi ke laman palsu yang menyerupai situs resmi, sehingga data mereka dicuri dan disalahgunakan.

Dampak Nyata bagi Mahasiswa dan Institusi

Ketika data pribadi mahasiswa tersebar, dampaknya sangat serius. Penyalahgunaan data dapat berujung pada pinjaman online ilegal, pemalsuan identitas, hingga berbagai tindak kejahatan lainnya. Kerugian yang dialami tidak hanya bersifat finansial, tetapi juga berdampak pada rasa aman dan kondisi psikologis pemilik data.

Bagi institusi pendidikan, kebocoran data berpotensi merusak kepercayaan publik. Hilangnya kepercayaan tersebut akan berdampak langsung pada reputasi lembaga dan tidak mudah untuk dipulihkan. Oleh karena itu, perlindungan data pribadi harus ditempatkan sebagai prioritas strategis, bukan sekadar kewajiban administratif.

Direktur YPTA Surabaya Eko Halim Santoso memberikan opini terkait kebocoran data mahasiswa yang bisa menjadi bom waktu di dunia pendidikan.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jatim di Google News

Read Entire Article
| | | |