jpnn.com, JAKARTA - Sekretaris Jenderal Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Sekjen HIPMI) Anggawira menilai rencana penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi sebagai hal yang wajar.
Sebab, geopolitik dan konflik di kawasan Timur Tengah menekan harga minyak dunia yang menjadi acuan utama penentuan harga BBM di dalam negeri.
Menurut dia, Indonesia tidak memiliki kendali penuh atas fluktuasi harga minyak dunia yang saat ini mengalami tekanan signifikan.
“Harga BBM non-subsidi pada dasarnya mengikuti harga minyak mentah dunia, kurs rupiah, biaya pengapalan, dan premi risiko akibat konflik,” kata Anggawira saat dihubungi, Selasa (31/3).
Ia menjelaskan harga minyak jenis Brent yang telah bergerak di kisaran 100 hingga USD 115 per barel, bahkan sempat lebih tinggi akibat gangguan di Selat Hormuz, memberikan tekanan besar terhadap harga BBM dalam negeri.
Kondisi ini membuat ruang penyesuaian harga menjadi terbuka jika tren tersebut bertahan.
Saat ini, harga BBM non-subsidi seperti Pertamax berada di kisaran Rp 12.300 per liter, Dexlite Rp 14.200 per liter, dan Pertamina Dex Rp 14.500 per liter.
Jika harga minyak dunia tidak kunjung turun, maka penyesuaian harga dinilai menjadi langkah rasional untuk menjaga keberlanjutan pasokan energi.











































