jpnn.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 37 poin atau 0,21 persen ke level Rp17.884 pada akhir perdagangan pada Selasa (22/9).
Pelemahan ini dipicu oleh antisipasi pasar terhadap kelanjutan kenaikan suku bunga Bank Sentral AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi antisipasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh Federal Reserve (The Fed).
“Para pelaku pasar saat ini mengantisipasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Fed dan telah memperhitungkan kemungkinan besar akan adanya kenaikan lagi pada bulan Oktober,” ucapnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa.
Lebih lanjut, Ibrahim menyampaikan bahwa proyeksi suku bunga terbaru juga mengindikasikan setidaknya satu kali lagi kenaikan suku bunga tahun ini.
Prospek kebijakan yang lebih ketat memberikan dukungan bagi dolar AS dan menjaga imbal hasil obligasi Treasury AS tetap tinggi.
Di samping itu, investor juga menanti rilis data awal Purchasing Managers' Index (PMI) S&P Global serta survei Sentimen Konsumen University of Michigan (UoM) untuk bulan September.
“Pasar juga akan memantau serangkaian pernyataan dari para pejabat The Fed untuk mendapatkan petunjuk terkini mengenai arah kebijakan di masa mendatang,” ujar dia.
















































