jpnn.com, KALIMANTAN TIMUR - Degradasi ekosistem mangrove masih menjadi salah satu tantangan lingkungan terbesar di kawasan pesisir Indonesia.
Alih fungsi lahan, tekanan ekonomi masyarakat pesisir, dan minimnya insentif untuk menjaga hutan mangrove membuat banyak kawasan pesisir kehilangan pelindung alaminya dari abrasi, gelombang pasang, dan dampak perubahan iklim.
Hilangnya mangrove bukan hanya soal ekologi, namun juga berdampak pada sumber pangan masyarakat pesisir.
Mangrove menjadi tempat pemijahan ikan dan udang, melindungi tambak dan lahan pertanian dari intrusi air laut, serta menjaga kualitas air di kawasan budidaya. Ketika mangrove rusak, yang pertama kali terdampak adalah sumber pangan masyarakat pesisir itu sendiri.
Program Mangroves for Coastal Resilience (M4CR) hadir sebagai inisiatif strategis nasional, dalam komitmen rehabilitasi mangrove di Indonesia.
Kementerian Kehutanan melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Rehabilitasi Hutan (PDASRH), bersama dengan Bank Dunia, menyasar rehabilitasi mangrove seluas 32.634 hektare hingga 2027 di empat provinsi prioritas yang tersebar di Riau, Sumatera Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.
Dalam pelaksanaannya, rehabilitasi mangrove melibatkan masyarakat yang hidup berdampingan dengan mangrove, salah satu contoh yang paling menarik datang dari Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Melalui pendampingan M4CR, kini kesadaran masyarakat akan pentingnya mangrove meningkat, dengan sendirinya melakukan penyulaman atau penanaman kembali pada mangrove yang rusak.
















































