jpnn.com, JAKARTA - Ketika penggunaan kecerdasan buatan (AI) semakin masif, tingginya tingkat adopsi belum tentu menghasilkan nilai nyata bagi perusahaan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah teknologi tersebut benar-benar mampu menyelesaikan persoalan, meningkatkan produktivitas, dan menciptakan dampak yang terukur bagi bisnis.

CEO & Co-Founder DANA Indonesia Vince Iswara bersama Founder Genesis & Sevenpreneur Raymond Chin saat Sesi The AI Adoption Trap: Moving Beyond Hype to Real Business Value dalam rangkaian kegiatan IDEA Fest 2026 di JICC, Senayan, Jakarta, Minggu (6/9/2026). Foto: Dok. HUMAS DANA
Isu tersebut menjadi fokus DANA dalam inisiatif tahunan AI@Work Lab di IdeaFest 2026, yang mempertemukan pemimpin bisnis, teknologi, dan komunitas untuk membahas cara membawa AI dari tahap eksperimen menuju implementasi yang memberikan hasil terukur serta dampaknya bagi masa depan talenta.
Dalam sesi The AI Adoption Trap: Moving Beyond Hype to Real Business Value, Vince Iswara, CEO & Co-Founder DANA Indonesia, bersama Founder Genesis & Sevenpreneur Raymond Chin menekankan perusahaan perlu mengukur tingkat keberhasilan AI terhadap proses kerja dan perubahan yang dihasilkan terhadap bisnis, bukan hanya dari seberapa banyak AI digunakan atau eksperimen yang dijalankan.
“Adopsi AI bukan lagi tujuan akhir. Nilainya baru tercipta ketika teknologi tersebut membantu menyelesaikan persoalan yang nyata, memperbaiki kualitas keputusan, dan memberikan hasil yang dapat diukur. Namun, manusia tetap memegang peran utama dalam menentukan konteks, menjaga kualitas, mengelola risiko, dan bertanggung jawab atas hasil akhirnya,” ujar Vince.
Saat ini, sekitar 80-90% kode di DANA dihasilkan dengan dukungan AI. Meski demikian, peran engineer tidak berhenti pada pemeriksaan kualitas.















































