jpnn.com - Kehadiran saya dalam 6th Palm Biodiesel Conference 2026 di Bali, 17–18 September 2026, memberikan satu kesan kuat: bioenergi tidak lagi sekadar pelengkap dalam agenda transisi energi.
Bioenergi telah berkembang menjadi instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan energi, mengurangi impor, membangun industri nasional, menciptakan lapangan kerja, dan memperkuat posisi geopolitik Indonesia.
Konferensi yang mengangkat tema “The Role of Palm Biodiesel for Global Energy Security” tersebut menunjukkan bahwa banyak negara sedang mencari jalan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil. Gejolak geopolitik, volatilitas harga minyak, tekanan terhadap rantai pasok, serta tuntutan penurunan emisi membuat bioenergi semakin relevan.
Pengalaman Brasil dalam mengembangkan bioetanol menjadi salah satu pembelajaran penting dalam forum tersebut.
Keberhasilan Brasil bukan hanya karena memiliki perkebunan tebu yang luas, melainkan karena mampu membangun ekosistem secara konsisten: kepastian pasar, dukungan terhadap produsen, kesiapan infrastruktur, industri otomotif yang adaptif, kebijakan harga, riset teknologi, dan penerimaan konsumen.
Indonesia memiliki kesempatan membangun keberhasilan serupa melalui dua jalur sekaligus: memperkuat biodiesel melalui B50 dan membangun fondasi industri bioetanol melalui E5 menuju E10. Namun, keberhasilan keduanya tidak cukup hanya melalui penetapan angka mandatori. Yang harus dibangun adalah keseluruhan ekosistem dari hulu sampai hilir.
B50 dan Momentum Kedaulatan Energi
Penerapan B50—campuran 50 persen biodiesel berbasis sawit dengan 50 persen solar—merupakan kelanjutan logis dari perjalanan panjang Indonesia sejak B5, B10, B20, B30, hingga B40. Perjalanan ini memperlihatkan bahwa transisi energi tidak selalu harus dimulai dengan mengimpor teknologi atau komoditas baru. Transisi dapat dibangun dengan mengoptimalkan sumber daya yang telah dimiliki dan dikuasai bangsa sendiri.

















































