jpnn.com, JAKARTA - Pengamat mata uang, Ibrahim Assuaibi menilai Presiden Prabowo Subianto seharusnya lebih fokus bicara mengenai langkah penanganan untuk penguatan nilai tukar rupiah.
Hal ini dinilai lebih mendesak dibandingkan mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang dianggap menyeleneh di depan publik.
Ibrahim menyoroti kondisi nilai tukar rupiah yang saat ini diketahui terus mengalami kemerosotan.
Pelemahan ini terjadi sebagai dampak dari kenaikan harga minyak mentah dunia yang memicu penguatan posisi dolar Amerika Serikat.
Alih-alih melontarkan pernyataan yang memicu kontroversi, Ibrahim memandang Presiden semestinya memberikan masukan strategis.
Salah satunya, arahan mengenai cara menangani tingginya kebutuhan minyak mentah di dalam negeri.
"Tentang kebutuhan minyak mentah yang cukup tinggi, kemudian akan ada B50 sebagai pendamping ya dari bahan bakar posil ya," kata Ibrahim dalam pesan suara kepada awak media, Senin (18/5).
Ibrahim menyayangkan sikap Presiden yang dinilai justru memberikan olok-olok di tengah situasi ekonomi.








































