jpnn.com, JAKARTA - Dari ribuan stasiun penukaran baterai motor listrik di Indonesia, ada angka yang menggelitik: Jawa mengantongi 1.480 unit, sementara Nusa Tenggara hanya kebagian satu unit.
Ketimpangan mencolok itu merekam realitas adopsi kendaraan listrik kita hari ini.
Pembangunan infrastruktur masih menumpuk di pusat keramaian seperti Jabodetabek, sementara daerah lain gigit jari.
Persoalan itu memicu dilema klasik bak ayam dan telur. Dari sudut pandang bisnis, investor tentu enggan membangun fasilitas pengisian daya di wilayah yang sepi pengguna.
Namun di sisi lain, bagaimana warga daerah mau beralih ke motor listrik jika tempat isi ulang baterainya saja tidak ada?
Melihat celah tersebut, Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia (AISMOLI), mendorong pemerintah untuk turun tangan melepaskan simpul mati itu.
"Pemerintah perlu mempertimbangkan insentif fiskal bagi investasi pengisian daya dan penukaran baterai, terutama di wilayah yang secara komersial belum layak," ujar PR & Event Executive AISMOLI, Riniwaty Sinaga, di Jakarta.
Langkah itubbukan tanpa alasan. Negara seperti China sudah lebih dahulu membuktikannya.









































