jpnn.com, JAKARTA - Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta agar polemik pernyataan mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dihentikan. Ini untuk menjaga kerukunan bangsa.
"Menanggapi berkembangnya diskursus di ruang publik terkait potongan pernyataan Bapak Jusuf Kalla mengenai memori kolektif peristiwa Ambon, kami memandang perlu untuk memberikan imbauan demi menjaga harmoni dan kohesi sosial di tengah masyarakat,"' kata Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI Zainut Tauhid Sa'adi dalam pesan elektroniknya kepada JPNN, Senin (20/4).
Adapun tujuh pernyataan sikap MUI sebagai berikut:
1. MUI menegaskan kembali bahwa sejatinya seluruh ajaran agama berpijak pada nilai-nilai cinta kasih, persaudaraan, dan penghormatan setinggi-tingginya terhadap kemanusiaan.
Dalam situasi apa pun, nilai-nilai luhur ini harus tetap menjadi ruh utama dalam setiap narasi publik. Agama hadir sebagai penyembuh dan perekat, bukan pemisah antar-sesama anak bangsa.
2. MUI meyakini bahwa sebagai tokoh bangsa yang memiliki jasa besar dalam sejarah perdamaian Indonesia, pernyataan Bapak Jusuf Kalla perlu dipahami dalam konteks sejarah yang utuh dan komprehensif, bukan sebagai upaya menghidupkan sentimen negatif.
"Kami memandang pentingnya pelurusan konteks agar masyarakat tidak terjebak pada interpretasi yang menyimpang dari maksud aslinya," tegas Zainut.
3. MUI memandang bahwa sejarah perjalanan bangsa hendaknya diletakkan sebagai sumber kearifan (ibrah) untuk memperkuat pondasi kebangsaan kita.









































