6 Seruan MUI untuk Generasi Muda, Kritik Berbasis Data & Santun, Caci Maki Jangan

3 hours ago 11

6 Seruan MUI untuk Generasi Muda, Kritik Berbasis Data & Santun, Caci Maki Jangan

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Ilustrasi Majelis Ulama Indonesia. Foto: source for jpnn

jpnn.com, JAKARTA - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak generasi muda untuk mengedepankan kritik berbasis data dan akhlakul karimah.

Imbauan MUI ini sebagai respons atas dinamika sosial-politik belakangan ini, khususnya terkait maraknya penyampaian aspirasi dan kritik oleh elemen mahasiswa dan generasi muda di ruang digital maupun media sosial yang menggunakan narasi atau diksi yang kurang patut, 

"MUI memandang perlu untuk mengeluarkan pernyataan sikap dan edukasi keagamaan demi menjaga kemaslahatan umat dan bangsa," kata Sekretaris Wantim MUI Zainut Tauhid Sa'adi, Senin (15/6).

Adapun pernyataan sikap MUI sebagai berikut:

1. MUI senantiasa memandang pemuda dan mahasiswa sebagai pilar penting dalam mengawal perjalanan bangsa. Sikap kritis, kepedulian terhadap keadilan, serta kepekaan sosial terhadap berbagai kebijakan negara adalah tanda bahwa idealisme generasi muda kita tetap hidup. Keberanian menyuarakan kebenaran (amar ma'ruf nahi munkar) terhadap kebijakan publik yang menyangkut hajat hidup orang banyak adalah hal yang positif dan dilindungi oleh konstitusi.

2. MUI mengingatkan dengan penuh rasa kasih sayang, bahwa di dalam Islam, substansi kebenaran tidak boleh dipisahkan dari keluhuran cara penyampaiannya. Ketajaman kritik sejati terletak pada kekuatan data, kejelasan argumen, dan objektivitas pemikiran, bukan pada caci maki personal, penghinaan, maupun penggunaan istilah dengan narasi peyoratif yang kasar. Ketika kritik yang objektif bergeser menjadi narasi peyoratif yang sengaja merendahkan martabat kemanusiaan, maka esensi dari kritik yang diperjuangkan itu justru akan kabur dan kehilangan simpati publik.

3. Sebagai kaum terpelajar dan pimpinan opini di kalangan generasi muda, narasi yang keluar dari mimbar akademis semestinya mencerminkan kedalaman ilmu dan objektivitas berpikir. 

Gerakan mahasiswa adalah gerakan moral-intelektual; penggunaan diksi yang kasar dan peyoratif justru mendegradasi marwah gerakan tersebut. Hal ini juga merugikan substansi perjuangan, karena publik dan media tidak lagi mendiskusikan esensi masalah yang dikritik, melainkan terjebak dalam polemik kegaduhan bahasanya.

Enam seruan MUI untuk generasi muda, kedepankan kritik berbasis data dan santun, caci maki jangan

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |