jpnn.com, JAKARTA - Prospek ekspor Indonesia pada semester II 2026 masih dibayangi sejumlah tantangan, mulai dari dampak kebijakan tarif Amerika Serikat (AS) hingga tekanan harga komoditas global.
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai dampak penuh kebijakan tarif impor AS diperkirakan baru akan terasa pada paruh kedua tahun ini karena penyesuaian pesanan dari importir membutuhkan waktu beberapa bulan.
Menurut dia, selain dampak tarif AS, Indonesia juga perlu mengantisipasi risiko pengalihan pesanan ekspor ke negara-negara pesaing.
“Seperti, Vietnam dan Meksiko yang dinilai memiliki daya saing lebih tinggi di pasar Amerika,” ujar Yusuf di Jakarta, Jumat (437).
Di sisi lain, harga sejumlah komoditas ekspor utama seperti batu bara dan minyak sawit mentah (CPO) juga masih menghadapi tekanan siklus.
Sementara itu, permintaan logam industri dari China belum sepenuhnya pulih karena stimulus ekonomi negara tersebut berjalan lebih lambat dari perkiraan.
Meski demikian, Yusuf melihat masih terdapat faktor penopang yang dapat menjaga kinerja ekspor Indonesia.
Ia mencatat ekspor nonmigas Indonesia ke China sepanjang Januari hingga Mei 2026 masih tumbuh 17,7 persen secara tahunan, sehingga menjadi bantalan terhadap pelemahan permintaan di pasar lainnya.








































