jpnn.com - Pendahuluan
Negara sering bangga pada angka-angka besar, tetapi lupa bahwa ekonomi sesungguhnya bertumpu pada usaha-usaha kecil yang bekerja dalam sunyi.
Di Jawa Timur, persoalan UMKM bukan kekurangan semangat atau kreativitas, melainkan tersumbatnya akses permodalan oleh sistem yang kerap lebih ramah pada laporan daripada pada kenyataan.
Di ruang audiensi itulah harapan kembali diuji: apakah negara benar-benar hadir sebagai pembuka jalan, atau sekadar pencatat keluhan yang rapi namun dingin.
Mantan Presiden Ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau yang biasa disapa Gus Dur pernah berujar—dengan caranya yang sederhana tapi menampar kesadaran—bahwa negara sering kali terlalu sibuk mengurus yang besar, sampai lupa bahwa yang kecil justru menopang semuanya.
Di situlah UMKM berada: kecil secara skala, tetapi besar secara makna.
Negara kerap datang kepada UMKM dengan membawa spanduk program, bukan kunci pintu permodalan.
Formulir diperbanyak, seminar diperpanjang, tetapi akses justru dipersempit. UMKM diminta tertib administrasi layaknya korporasi, namun tidak diberi ruang bernapas ketika catatan masa lalu di SLIK OJK berubah menjadi vonis seumur hidup.












































