jpnn.com, JAKARTA - Masuknya udang impor asal Ekuador ke pasar Indonesia memicu kekhawatiran di kalangan petambak dan pembudi daya nasional.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena produksi udang dalam negeri tengah didorong untuk memenuhi kebutuhan bahan baku industri pengolahan.
Udang merupakan salah satu komoditas utama perikanan Indonesia sekaligus komoditas ekspor terbesar sektor perikanan.
Berdasarkan data yang dihimpun, produksi udang mencapai sekitar 953 ribu ton pada 2021 dan meningkat menjadi sekitar 1,09 juta ton pada 2022 atau tumbuh sekitar 15 persen.
Besarnya produksi tersebut menunjukkan Indonesia memiliki kapasitas budidaya yang cukup untuk memasok kebutuhan industri dari dalam negeri.
Namun, masuknya udang impor dengan harga yang dinilai lebih kompetitif dikhawatirkan menekan penyerapan hasil tambak lokal serta melemahkan posisi tawar petambak.
Dr. Ir. Hasanuddin Atjo menyoroti masuknya udang impor dalam jumlah besar ke Jawa Timur. Ia mengingatkan pemerintah dan pelaku usaha agar memperhatikan potensi risiko yang dapat ditimbulkan produk impor, termasuk kemungkinan masuknya penyakit yang dapat memengaruhi budidaya udang nasional.
“Misalnya membawa penyakit, kemudian bocor ke pasar dalam negeri karena bisa mengganggu stabilitas harga pasar,” kata Atjo saat dihubungi awak media, Selasa (15/9).

















































