jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah memastikan ketahanan energi atau bahan bakar minyak (BBM) nasional dalam kondisi aman di tengah gejolak di Timur Tengah.
Tenaga Ahli Menteri ESDM Satya Hangga Yudha Widya Putra mengatakan penutupan Selat Hormuz oleh Iran, yang menjadi jalur sekitar 20 persen perdagangan minyak dan LNG dunia telah memicu ketidakpastian pasokan energi global.
"Indonesia masih bergantung pada impor, dengan lifting sekitar 600 ribu barel per hari dan konsumsi mencapai 1,6 juta barel. Namun, stok BBM nasional dalam kondisi aman dan terkendali," ujar Hangga di Jakarta Rabu (25/3).
Hangga menambahkan pemerintah terus memastikan ketersediaan pasokan melalui produksi kilang domestik, termasuk sumber impor dari berbagai kawasan seperti Amerika Serikat, Amerika Latin, Afrika, dan Australia.
Menanggapi perbandingan dengan negara lain di Asia, Hangga menjelaskan bahwa angka ketahanan stok BBM 27-28 hari bukan berarti Indonesia hanya memiliki cadangan statis.
"Produksi dan impor tetap berjalan, sehingga pasokan terus terjaga, meskipun harga global mengalami kenaikan," jelasnya.
Pemerintah juga memperkuat ketahanan energi melalui pembangunan fasilitas penyimpanan (storage) minyak di Sumatra.
Hangga menjelaskan untuk menghadapi potensi krisis energi, menurut, pemerintah juga telah menyiapkan sejumlah langkah strategis.











































