jabar.jpnn.com, KOTA BANDUNG - Di usia 60 tahun, saat sebagian orang mulai berharap hidup lebih tenang, Nandang justru harus menyaksikan satu-satunya penopang hidupnya lenyap dalam kobaran api.
Warung kecil berukuran 1,8 x 2,5 meter di kawasan Baltos, Jalan Cikapayang–Tamansari, Kota Bandung selama ini menjadi sumber nafkahnya, kini hanya tersisa puing dan arang.
Warung itu mungkin terlihat sederhana bagi orang lain hanya tempat menjual kopi dan rokok. Tapi bagi Nandang, di situlah hidupnya bergantung. Dari sana ia makan, bertahan, dan mengisi hari-hari tuanya dengan harapan kecil yang terus dijaga.
Nandang mengatakan, saat kejadian dirinya sudah tutup warung sekitar pukul 17.00 WIB, saat massa mulai anarkistis merusak fasilitas umum. Tak mau ambil risiko, Nandang lantas pulang ke rumah, dengan kondisi warung yang sudah dikuncinya.
"Saya biasanya tutup itu jam 6 sore, tapi kemarin jam 5 sore juga sudah tutup, soalnya sudah mulai ramai, walaupun belum ada tanda-tanda pembakaran gitu. Cuma udah pas itu mau bakar di jalan gitu, ah udah aja langsung tutup, langsung pergi," kata Nandang saat ditemui di kios warungnya, Sabtu (2/5/2026).
Sekitar pukul 21.00 WIB, Nandang kembali ke warungnya dengan maksud melihat situasi. Sebab semula ia mengira, ramai-ramai di sekitar Jalan Cikapayang itu, dikarenakan ada kegiatan hiburan.
Namun, betapa terkejutnya Nandang saat melihat kondisi warungnya yang sudah tinggal puing-puing. Tak ada yang tersisa sama sekali.
"Saya kurang tahu dibakarnya jam berapa, tapi pas saya ke sini jam 9 (malam) sudah hancur," ungkapnya.






































