jpnn.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Rabu bergerak menguat 121 poin atau 0,69 persen menjadi Rp 17.511 per USD.
Sebelumnya, pada penutupan Selasa (8/9) mata uang garuda di level Rp 17.632 per USD.
Analis Bank Woori Saudara Rully Nova menyatakan penguatan rupiah dipengaruhi arus modal masuk yang deras ke pasar obligasi pemerintah.
“Rupiah pada perdagangan hari ini menguat dipengaruhi oleh faktor domestik arus modal masuk yang deras ke pasar obligasi pemerintah,” ucap Rully, di Jakarta, Rabu.
Tercatat, arus modal yang masuk ke pasar obligasi naik USD 90,5 juta karena dipengaruhi membaiknya defisit anggaran dan penerimaan pajak, spread yield yang masih lebar dibandingkan obligasi pemerintah.
Kenaikan inflasi AS yang berlanjut dinilai membuat obligasi pemerintah AS secara umum kurang menarik.
Di samping itu, investor juga menanti data inflasi AS pada Kamis (10/9) terkait harga minyak yang masih bertahan di level tinggi.
Inflasi AS secara bulanan dan tahunan diperkirakan masing-masing 0,4 persen dan 0,2 persen dipengaruhi harga minyak. Adapun inflasi inti tahunan diprediksi berkisar 2,4 persen.
















































