jpnn.com, JAKARTA - Pesawat terbang jatuh di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Minggu.
Kecelakaan itu menewaskan dua orang, satu di antaranya Marsekal Pertama (Marsma) Fajar Adriyanto.
Jenderal berpangkat bintang satu TNI Angkatan Udara itu meninggal ketika sedang melakoni latihan dengan pesawat latih sipil Quicksilver GT500 di Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Bogor.
Kala itu, Fajar dengan salah satu pilot yang juga tewas di tempat tengah menggunakan pesawat bernomor ekor S126 milik Federasi Aero Sport Indonesia (FASI).
Fajar bukan merupakan wajah baru di jajaran TNI AU. Dia cukup dikenal masyarakat karena kerap mewakili TNI AU memberikan pernyataan resmi sebagai Kepala Dinas Penerangan.
Mantan penerbang tempur pesawat F-16 itu memulai kariernya sejak masuk ke Akademi Angkatan Udara (AAU) 1992.
Beberapa jabatan strategis pun pernah disandang fajar, di antaranya Komandan Skuadron 3 Lanud Iswahyudi pada 2007 sampai 2019, Komandan Lanud Manuhau pada 2017 hingga 2019, Kadispenau pada 2019 sampai 2020, Kepala Dinas Potensi Dirgantara pada 2020 sampai 2023 dan Aspotdirga Kaskoopsudnas pada 2023 sampai 2024.
Jabatan terakhir Fajar, yakni Kapoksahli Kodiklatau. Fajar bersama Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Mohammad Tonny Harjono pernah terlibat dalam peristiwa saling kejar atau dog fight dengan pesawat jet Amerika Serikat yang masuk ke Indonesia.