jpnn.com, JAKARTA - Peneliti senior Citra Institute Efriza menyatakan saat ini masih banyak parpol yang "malu-malu" untuk menyatakan dukungan Prabowo dua periode atau mengusung calon presiden sendiri di Pilpres 2029.
Dia menilai sikap “malu-malu” itu adalah strategi agar tidak menutup pintu komunikasi dengan kekuatan politik lain, termasuk dengan Prabowo Subianto.
"Di sisi lain, dukungan yang belum final juga menjadi alat tawae untuk mengamankan posisi strategis, terutama kursi cawapres atau pembagian kekuasaan lainnya. Jadi, ambiguitas itu bukan keraguan, melainkan bagian dari kalkulasi politik yang sadar timing," kata Efriza kepada JPNN.com, Jumat (13/2).
Dia menjelaskan saat ini sangat mungkin ketiga partai politik yang hanya menyatakan dukungan sampai 2029 ditenggarai terus menjaga opsi politiknya.
Efriza mengatakan ada dua pertimbangan utama. Pertama, bisa saja menyiapkan skenario untuk mengusung capres sendiri di periode berikutnya, sehingga tidak ingin terikat terlalu jauh pada wacana dua periode.
"Kedua, sikap setengah dukungan juga bisa menjadi strategi tawar, terutama untuk posisi cawapres atau jatah kursi strategis di pemerintahan. Sikap keraguan, bisa jadi kalkulasi politik yang sadar timing, dan malah menghindari citra plin-plan," lanjutnya.
Dia mencontohkan untuk PAN cenderung menipis peluangnya di Pilpres berpasangan dengan Prabowo, sehingga langsung mencoba berkomitmen berharap dilirik oleh Prabowo dan Gerindra melalui loyalitasnya.
"Bahkan sejak dipegang Zulkifli Hasan cenderung PAN menurun diperhitungkan sebagai cawapres. Kecuali PKB yang memungkinkan dipilihnya dari unsur Nahdlatul Ulama (NU) sebagai cawapres alternatif, serta PKB sudah terbiasa manuver untuk mengabaikan Prabowo melihat kenyataan pada 2014, 2019, dan 2024," tuturnya.









































