jpnn.com, JAKARTA - Penerbitan instrumen utang Panda Bond oleh pemerintah Indonesia diprediksi tidak akan memberikan dampak penguatan yang signifikan terhadap nilai tukar rupiah.
Pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menyatakan efektivitas instrumen ini terhadap stabilitas mata uang domestik masih terbatas oleh kondisi ketergantungan pasar global.
Ibrahim menilai selama harga minyak mentah dunia masih tinggi, tekanan terhadap Rupiah akan tetap membayangi.
Hal ini dikarenakan transaksi minyak mentah di pasar internasional masih menggunakan mata uang dolar AS sebagai standar utama pembayaran.
"Nah dari situlah kebutuhan dolar kita cukup besar. Berarti apa? Berarti dengan diversifikasi surat utang negara dilempar adalah ke Tiongkok bukan serta-merta
rupiah ini akan menguat," kata Ibrahim kepada Jpnn.com, Jumat (8/5).
Saat ini, Indonesia hanya mampu memproduksi 600 ribu barel per hari, sehingga kekurangan 1,5 juta barel harus diimpor menggunakan dolar.
Situasi ini membuat rupiah akan tetap melemah selama harga komoditas energi tersebut terus mengalami kenaikan.









































