jateng.jpnn.com, CILACAP - BMKG mengingatkan potensi kekeringan di sejumlah wilayah Jawa Tengah bagian selatan saat musim kemarau 2026 yang diprakirakan lebih kering dibanding kondisi normal.
Ketua Tim Kerja Pelayanan Data dan Diseminasi Informasi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo mengatakan curah hujan pada musim kemarau tahun ini diprediksi berada di bawah normal sehingga perlu perhatian serius dari pemerintah daerah maupun masyarakat.
“Prakiraan musim kemarau tahun ini sifat curah hujan di bawah normal, sehingga perlu perhatian dan antisipasi khusus oleh instansi terkait terutama terhadap daerah-daerah rawan kekeringan,” kata Teguh, Jumat (7/5).
Berdasarkan data Stasiun Klimatologi Semarang, awal musim kemarau di sejumlah wilayah selatan Jawa Tengah diperkirakan mulai terjadi pada pertengahan Mei 2026.
Khusus wilayah pesisir tenggara Kabupaten Cilacap seperti Kecamatan Binangun dan Nusawungu, musim kemarau diprediksi datang lebih cepat, yakni pada awal Mei.
BMKG memperkirakan durasi musim kemarau di Kabupaten Cilacap berlangsung selama 14 hingga 18 dasarian atau sekitar 140-180 hari, dengan puncak kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026.
Selain Cilacap, prakiraan musim kemarau lebih kering juga berlaku di sejumlah daerah lain seperti Banyumas, Purbalingga, dan Kebumen.
Di Banyumas, awal musim kemarau diperkirakan berlangsung bertahap mulai awal Mei di wilayah tenggara hingga pertengahan Mei di wilayah utara dan tengah. Durasi kemarau di daerah tersebut diprediksi berlangsung 11-18 dasarian dengan kondisi lebih kering dibanding rata-rata klimatologis.






































