jpnn.com, JAKARTA - Dugaan penyimpangan beras fortifikasi menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga beras, serta mempengaruhi inflasi pangan nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan berdasarkan pada pendalaman menunjukkan masih terdapat faktor lain yang mempengaruhi harga beras, yakni dugaan peralihan penjualan beras premium ke fortifikasi dengan harga yang dinilai tidak wajar di pasaran.
"Nah ternyata ada dugaan beralih dari (produksi beras) premium ke fortifikasi. Katanya fortifikasi tetapi setelah dicek di laboratorium, ada empat lab kredibel, dicek ternyata tidak sesuai dengan labelnya," ucap Amran di Jakarta, Selasa (15/9)
Amran mengatakan dugaan tersebut muncul setelah pemerintah memeriksa produk beras fortifikasi melalui empat laboratorium kredibel, dan menemukan ketidaksesuaian antara kandungan produk dengan informasi yang tercantum pada label.
Amran yang juga Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengaku beras fortifikasi yang semestinya dijual sekitar Rp 13.500 per kilogram, tetapi dipasarkan hingga Rp 57.000 per kilogram.
"Sehingga membebani masyarakat yang menjadi sasaran utama program fortifikasi," tegasnya.
Amran menyebut selisih harga tersebut rata-rata mencapai sekitar Rp 22.000 per kilogram, sehingga diduga menimbulkan kerugian ekonomi bagi konsumen?
"Rata-rata penipuan (keuntungan yang didapatkan) Rp 22.000 per kilogram rata-rata. Ini menyengsarakan konsumen kita," tegas Amran.

















































