bali.jpnn.com, DENPASAR - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mencatat setiap tahun perguruan tinggi di Indonesia meluluskan 1,9 juta generasi muda, terdiri dari 1,7 juta sarjana dan sisanya diploma.
Pada saat yang sama, ketika terjadi deindustrialisasi dini para lulusan ini akan kesulitan masuk ke pasar kerja.
Oleh karena itu, pemerintah mengeluarkan inisiatif meningkatkan industrialisasi, khususnya industri spesifik.
Dengan adanya delapan industri strategis yaitu energi, pangan, kesehatan, pertahanan, maritim, hilirisasi, digitalisasi, dan manufaktur maju, perguruan tinggi didorong untuk mengoptimalkan peluang di sana.
“Sebenarnya yang dibutuhkan itu prodi apa ke depan, itu yang akan kami coba susun nanti bersama, dan tentunya kajian-kajian dari kepengurusan Konsorsium PKPT (Perguruan Tinggi Peduli Kependudukan) kami butuhkan,” ujar Sekjen Kemdiktisaintek Badri Munir Sukoco saat
Simposium Nasional Kependudukan Tahun 2026 di Badung, Bali, Kamis (23/4) kemarin.
Oleh karena itu, Kemdiktisaintek mengajak perguruan tinggi memilah bahkan menutup program studi (prodi) yang kurang relevan dengan kebutuhan lapangan kerja ke depan.
“Bapak rektor yang ada di sini semuanya, ada kerelaan, nanti mungkin ada beberapa yang harus kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi itu.






































