jpnn.com, JAKARTA - Pengamat pertanian Khudori menilai beras fortifikasi bukan menjadi penyebab utama kenaikan harga beras yang terjadi sepanjang 2026.
Menurut Khudori, beras fortifikasi yang beredar di pasar saat ini belum memiliki volume yang cukup besar untuk mempengaruhi harga beras secara keseluruhan.
“Beras fortifikasi tidak signifikan dan tidak tepat dijadikan kambing hitam kenaikan harga beras saat ini,” ujar Khudori dalam sebuah pernyataan di Jakarta, Kamis (13/8).
Khudori mengatakan beras fortifikasi merupakan beras yang diperkaya dengan vitamin dan mineral tertentu, sehingga memiliki nilai tambah dan harga lebih tinggi. Namun, jumlah produsen dan volume produksinya disebut masih terbatas.
Dia mengatakan munculnya beras fortifikasi di ritel modern juga tidak serta-merta menunjukkan produsen beras premium telah beralih memproduksi beras fortifikasi.
Khudori menilai kenaikan harga beras lebih dipengaruhi oleh sejumlah faktor lain, terutama kenaikan harga gabah di tingkat petani dan mulai melandainya produksi setelah periode panen raya.
Khudori mengatakan harga gabah kering panen (GKP) di sejumlah daerah bahkan telah melampaui Rp 8.000 per kilogram, sementara harga pembelian pemerintah (HPP) ditetapkan Rp 6.500 per kilogram.
“Gabah adalah bahan baku beras. Ketika harga bahan baku naik, harga beras juga akan ikut naik,” ujarnya.










.jpeg)





























