Harris Turino Peringatkan Risiko Badan Ekspor Nasional

3 weeks ago 63

Harris Turino Peringatkan Risiko Badan Ekspor Nasional

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Dr. Harris Turino, menyatakan bahwa APBN bukan sekadar buku kas negara melainkan alat perjuangan bangsa. Foto/Ilustrasi: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Dr. Harris Turino, menyatakan bahwa APBN bukan sekadar buku kas negara melainkan alat perjuangan bangsa. Hal itu disampaikannya menanggapi pidato Presiden tentang Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal 2027.

Harris mengapresiasi target pertumbuhan ekonomi 5,8 hingga 6,5 persen serta penurunan angka kemiskinan menjadi 6,0 sampai 6,5 persen. Namun ia mengingatkan perlunya uji realitas. "Selama ini pertumbuhan Indonesia bertahan di kisaran lima persen," ujarnya dalam keterangannya, Jumat (22/5).

"Untuk mencapai angka lebih tinggi, diperlukan mesin pertumbuhan baru seperti investasi produktif, industrialisasi bernilai tambah, dan lapangan kerja formal," tegasnya.

Terkait rencana pembentukan Badan Ekspor Nasional yang akan mengkonsolidasikan ekspor komoditas strategis di bawah satu badan BUMN, Harris menyebut gagasan itu berisiko melahirkan birokrasi baru. "Pertanyaan jujurnya adalah apakah badan ini akan menjadi instrumen penguatan tata kelola atau justru melahirkan lapisan birokrasi baru," katanya.

Dia memperingatkan potensi distorsi pasar. "Jika seluruh proses ekspor harus melewati satu pintu terpusat, ada risiko biaya transaksi membengkak dan fleksibilitas merespons pasar global menurun," jelas Harris.

Sebagai solusi, ia mengusulkan pendekatan yang lebih cerdas. "Yang dibutuhkan bukan negara yang hadir lebih besar, tetapi negara yang hadir lebih cerdas," ujar anggota DPR tersebut.

Dia merekomendasikan platform nasional tata kelola ekspor terintegrasi berbasis teknologi.

Selain itu, Harris juga menyoroti sempitnya ruang fiskal Indonesia. Ia mendorong reformasi penerimaan negara, termasuk mengejar potensi pajak dari platform digital global. "Stabilitas makro tidak lahir hanya dari pernyataan optimisme, tetapi dari kecepatan respons dan kualitas kebijakan," pungkasnya.

Anggota DPR kritik target ekonomi 2027 dan minta negara hadir lebih cerdas, bukan lebih besar.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |