jpnn.com, JAKARTA - Menteri Agama Nasaruddin Umar membuka Rapat Kerja Nasional Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia 2026 di Jakarta pada Kamis (29/1). Dalam sambutannya, ia menekankan dua hal strategis bagi BMBPSDM, yaitu peningkatan kompetensi sumber daya manusia dan optimalisasi teknologi untuk menciptakan tata kelola birokrasi yang efisien dan berdampak.
“Dalam manajemen modern, semakin maju sebuah institusi, justru biaya operasionalnya semakin kecil. Karena itu, kita perlu meng-upgrade SDM dan memaksimalkan pemanfaatan teknologi,” ujar Nasaruddin Umar di hadapan para pejabat eselon I dan peserta Rakernas.
Ia melanjutkan, efisiensi anggaran sangat penting agar belanja organisasi mampu menghasilkan output yang nyata. “Kementerian yang produktif itu bukan yang besar biaya operasionalnya, tetapi yang kecil pengeluarannya dan besar dampaknya,” tegasnya.
Nasaruddin juga mengingatkan BMBPSDM agar peka membaca dinamika sosial-keagamaan di masyarakat.
“Kalau kita proaktif dan berpikir out of the box, pundi-pundi keumatan itu sangat besar dan bisa dikelola untuk kemaslahatan umat,” ujarnya.
Ia meminta BMBPSDM aktif melaporkan persoalan riil di masyarakat sebagai bahan perbaikan kebijakan. “Saya ingin badan ini rajin menyetor persoalan kepada menteri, bukan hanya menyetor kebaikan. Karena dari persoalan itulah kebijakan bisa diperbaiki,” sambungnya.
Sementara itu, Kepala BMBPSDM Muhammad Ali Ramdhani menyatakan seluruh program kerja badan itu harus berpijak pada penguatan nilai-nilai keagamaan. Ia menyebut arah program bertumpu pada tiga kata kunci: rukun, maslahat, dan cerdas.
“Ikhtiar-ikhtiar yang kita lakukan tidak boleh sekadar selera kita, tetapi harus memberikan makna yang kuat terhadap penguatan nilai-nilai keagamaan dari seluruh perspektif kehidupan bangsa,” jelas Ali Ramdhani.












































