jatim.jpnn.com, SURABAYA - Cuaca ekstrem yang melanda Jawa Timur dalam beberapa waktu terakhir berdampak pada gagal panen atau puso lahan pertanian di sejumlah daerah.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur Heru Suseno menyebut luas lahan yang mengalami puso mencapai sekitar 3.000 hektare yang tersebar di beberapa wilayah, di antaranya Kabupaten Pasuruan dan Bojonegoro, pada Oktober 2025.
Meski demikian, Heru memastikan kondisi tersebut tidak memengaruhi hasil produksi padi Jawa Timur sepanjang 2025.
Menurut Heru, puso terjadi saat tanaman padi di sejumlah wilayah telah melewati masa panen, sehingga tidak berdampak langsung terhadap total produksi. Selain itu, petani yang terdampak juga telah mendapatkan bantuan dari pemerintah.
"Puso kemarin itu 3.000 hektare, tetapi kan tersebar, itu total di Jawa Timur. Itu kemudian sudah dipenuhi bantuan," kata Heru, Selasa (31/1).
Heru menambahkan, banjir yang terjadi belakangan ini juga tidak sepenuhnya merendam lahan pertanian. Sebagian genangan air dilaporkan cepat surut sehingga tidak mengganggu pertumbuhan tanaman padi secara signifikan.
“Kalau banjir, tidak semuanya melanda sawah. Ada hujan deras, besoknya sudah surut, sehingga tidak banyak mengganggu tanaman,” tuturnya.
Meski begitu, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jawa Timur tetap mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang diprakirakan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) akan berlangsung hingga awal Februari 2026.











































