jpnn.com, JAKARTA - Pertunjukan musikal Batavia Tales yang digelar di The Port Batavia, Pantai Indah Kapuk (PIK), menampilkan episode keempat atau yang terakhir pada Sabtu (24/1).
Namun, episode pemungkas yang mengusung titel The Sailing of Batavia itu tidak sekadar sebagai penutup pertunjukan, tetapi juga mencerminkan kolaborasi antara seni pertunjukan, pelestarian budaya, dan pemberdayaan ekonomi kreatif.
Batavia Tales merupakan bagian dari inisiatif PIK Berbudaya yang digagas Amantara sebagai salah satu anak usaha Agung Sedayu Group (ASG).
Program tersebut mengurasi beragam kegiatan berbasis sejarah, seni, budaya, hingga gaya hidup untuk menghadirkan kawasan yang memiliki narasi dan identitas.
Managing Director Amantara ASG Soesilawati mengatakan Batavia Tales menjadi contoh konkret tentang bagaimana budaya bisa dihadirkan secara relevan dengan perkembangan zaman.
Menurut dia, PIK Berbudaya merupakan inisiatif yang lahir dari komitmen Agung Sedayu Group untuk turut serta melestarikan dan menjaga aneka ragam budaya Nusantara.
“Ya, tentunya (pelestarian budaya Nusantara) melalui pendekatan yang relevan dengan zaman sekarang ini. Bagi kami, budaya itu bukan cuma simbol, tetapi itu adalah identitas, value yang kami tanamkan,” ujarnya.
Realisasi PIK Berbudaya pun melibatkan berbagai pihak, Amantara juga menggandeng komunitas kreatif serta para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).











































