jpnn.com, JAKARTA - Ibu Ila mulai merajut kembali hidupnya melalui PNM Mekaar, dengan membuka jalan baru bagi keluarganya, menjadi seorang penjahit.
Di masa pandemi Covid-19, hidup Bu Ila sempat berada pada titik yang tidak pernah dia bayangkan.
Penghasilan keluarga terguncang setelah sang suami terkena pemutusan hubungan kerja, sementara kondisinya sedang hamil dan kebutuhan rumah tangga erta masa depan pendidikan anak tetap harus disiapkan. Di tengah keadaan yang serba terbatas, Bu Ila tidak ingin terus terjebak dalam rasa pasrah.
Kisah Ibu Ila menjadi potret perempuan prasejahtera yang berusaha bangkit di tengah masa paling sulit.
Melalui PNM Mekaar, dia mendapatkan akses permodalan untuk membeli mesin jahit sebagai langkah awal membangun usaha dari rumah.
Mesin jahit itu bukan sekadar alat kerja, tetapi menjadi harapan baru. Dari tangan yang terus belajar dan bekerja, Ila mulai menerima pesanan jahitan, memperbaiki pakaian, hingga perlahan membangun kepercayaan pelanggan di sekitarnya.
“Saya tidak bisa hidup seperti ini terus, pasrah sama keadaan. Saya harus bangkit. Terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo, karena program PNM Mekaar sangat bermanfaat bagi UMKM di Indonesia. Dari program ini, saya bisa menyekolahkan anak saya dan memiliki rumah yang layak,” ujar Ila.
Kalimat itu lahir dari perjalanan panjang yang tidak selalu mudah. Ada masa ketika pesanan belum datang, pendapatan belum menentu, dan kebutuhan keluarga tetap harus dipenuhi.






































