Al-Ishlah Memanggil: Malam Ketika Doa Menyatukan Rindu Para Santri untuk KH Ahmad Hadlor Ihsan

1 hour ago 16

Kamis, 26 Maret 2026 – 15:25 WIB

 Malam Ketika Doa Menyatukan Rindu Para Santri untuk KH Ahmad Hadlor Ihsan - JPNN.com Jateng

Tahlil dan Doa Bersama Peringatan 40 Hari Wafatnya Abah KH Ahmad Hadlor Ihsan di Kabupaten Batang, Rabu (25/3). Foto: Source for JPNN

jateng.jpnn.com, BATANG - Malam itu, Rabu (25/3), di antara sela angin yang turun pelan dari perbukitan hingga pesisir di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, ada sesuatu yang bergerak pelan, tetapi serempak. Bukan sebuah perayaan besar. Terdengar lirih lantunan ayat suci Alquran, selawat, dan nama yang dipanggil berulang-ulang dengan penuh takzim: Abah KH Ahmad Hadlor Ihsan.

BERTEPATAN pada malam Kamis Pahing, genap empat puluh hari wafatnya Pengasuh Pondok Pesantren Al-Ishlah Mangkangkulon, Kota Semarang, KH Ahmad Hadlor Ihsan yang berpulang pada Sabtu (14/2/2026) dini hari. Sekitar 800 santri dan alumni pondok pesantren tersebut-yang tersebar di Kabupaten Batang-duduk bersila, kepala tertunduk, bibir bergerak melantunkan doa yang sama.

Mereka berkumpul dalam acara 'Tahlil dan Doa Bersama' yang digelar serentak oleh Pengurus IKHLAS (Ikatan Alumni Al-Ishlah) Cabang Batang. Bukan di satu tempat. Namun, mereka berdoa di berbagai titik, yakni di Pecalungan (bertempat di kediaman Kiai Saikhu), Pasusukan Bawang (Ustaz Mushollah), Ujung Negoro Tulis (Kiai Karomat), Wonobodro Blado (Kiai Nur Khozin), Tumbreb Bandar (KH Fatkhurrohman), serta wilayah lain dengan skala lebih kecil.

Acara malam itu sederhana. Ada khataman Alquran 30 juz, tahlil, dan doa penutup. Lingkaran orang-orang yang saling mengenal itu, duduk bersama karena alasan yang sama, yakni rindu kepada sang guru.

Di sela rangkaian tahlil dan doa bersama, para santri dan alumni juga melantunkan Sholawat Ulama, karya almarhum KH Ahmad Hadlor Ihsan. Selawat merupakan rangkaian doa dan pujian kepada Nabi Muhammad. Selain itu, juga mengandung pesan-pesan nilai keislaman yang membumi, seperti pentingnya mengikuti sunnah Nabi, menghormati ulama, serta memohon perlindungan dari kebodohan dan kesesatan.

Sholawat Ulama juga memuat doa-doa sosial, seperti harapan agar negeri tetap aman dan masyarakat hidup dalam kebaikan. Karena itu, bagi para santri dan alumni Al-Ishlah, selawat ini tidak sekadar bacaan ritual, melainkan bagian dari ajaran dan warisan spiritual yang terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Mengenang Sosok Sang Guru

Ketua Pengurus IKHLAS Cabang Batang Kiai Saikhu mengatakan tahlil 40 hari bukan sekadar kewajiban tradisi, ini adalah urusan hati. “Bagi santri dan alumni, almarhum adalah sosok guru yang luar biasa sabar, ikhlas, dan sangat tawadlu. Keteladanan beliau sangat menginspirasi para santri,” ujar Kiai Saikhu kepada JPNN Jateng, Kamis (26/3).

Empat puluh hari setelah wafatnya KH Ahmad Hadlor Ihsan, ratusan alumni santri Al-Ishlah menggelar tahlil serentak di lima titik Kabupaten Batang.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com Jateng di Google News

Read Entire Article
| | | |