jpnn.com - Indonesia adalah negeri yang kaya, tetapi sering kali kekayaan itu terasa jauh dari kehidupan sehari-hari rakyatnya. Dari Kalimantan, batu bara dikirim ke berbagai negara. Dari Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi, sawit bergerak menuju pasar global. Dari kawasan industri mineral, produk olahan tambang masuk ke rantai pasok baja, baterai, kendaraan listrik, dan manufaktur dunia.
Setiap hari, kapal-kapal besar membawa komoditas Indonesia keluar dari pelabuhan. Nilainya besar. Angkanya bisa mencapai miliaran dolar. Tetapi pertanyaan yang paling penting justru sederhana: setelah semua kekayaan itu pergi, berapa banyak manfaatnya benar-benar kembali ke Indonesia?
Pertanyaan itu bukan hanya urusan pemerintah pusat. Ia juga urusan petani sawit, pekerja tambang, buruh pelabuhan, sopir truk, pengusaha daerah, pemerintah kabupaten, pelaku UMKM, dan masyarakat yang hidup di sekitar sumber daya alam. Sebab merekalah yang paling dekat dengan proses produksi. Mereka melihat tanahnya digarap, jalannya dilalui angkutan berat, sungainya berubah, kotanya tumbuh, dan ekonominya bergerak karena komoditas.
Karena itu, kebijakan pemerintah untuk memperkuat Devisa Hasil Ekspor atau DHE dan menata ekspor sumber daya alam melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia atau DSI perlu dilihat dari sudut yang lebih luas.
Ini bukan semata-mata kebijakan teknis tentang devisa, bank, eksportir, atau dokumen ekspor. Ini adalah pertanyaan besar tentang bagaimana negara memastikan kekayaan alam tidak hanya menjadi barang dagangan dunia, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi di dalam negeri.
Selama ini, Indonesia bangga menjadi eksportir besar. Itu wajar. Batu bara, sawit, dan produk mineral adalah penopang penting neraca perdagangan. Ketika ekspor kuat, negara memperoleh penerimaan, daerah mendapat aktivitas ekonomi, dan dunia usaha bergerak. Namun ekspor yang besar belum tentu otomatis membuat ekonomi nasional menjadi lebih kuat apabila nilai finansialnya tidak optimal kembali dan berputar di dalam negeri.
Inilah inti dari persoalan DHE. Devisa hasil ekspor seharusnya menjadi darah segar bagi perekonomian nasional. Ia membantu memperkuat cadangan valas, menopang stabilitas rupiah, memperdalam likuiditas perbankan, dan memberi ruang lebih besar bagi pembiayaan industri. Ketika devisa dari ekspor masuk dan tinggal lebih lama di sistem keuangan domestik, Indonesia memiliki bantalan lebih kuat menghadapi gejolak global.
Kita tahu, ekonomi dunia hari ini tidak sedang baik-baik saja. Harga energi bisa berubah karena konflik. Suku bunga global bisa mengguncang mata uang negara berkembang. Arus modal asing bisa keluar dengan cepat ketika pasar mencari tempat yang dianggap lebih aman. Dalam situasi seperti itu, rupiah membutuhkan


































