jatim.jpnn.com, SURABAYA - Pengkaji Budaya dan Media Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA) Radius Setiyawan menyoroti temuan 70 anak yang terpapar ideologi kekerasan ekstrem sebagaimana diungkap Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Polri.
Radius menilai eskalasi kekerasan di ruang digital bergerak sangat masif dan cepat, terutama karena anak-anak hidup dalam ekosistem digital yang melampaui kemampuan reflektif mereka.
“Anak-anak hari ini menghadapi arus konten kekerasan, mulai dari ideologi ekstrem, ujaran kebencian, hingga glorifikasi kekerasan. Kondisi ini membuat kekerasan perlahan dinormalisasi dalam keseharian digital anak,” ujar Radius, Kamis (8/1).
Menurutnya, sebagai digital native, anak tumbuh dalam ruang digital yang bergerak cepat dan minim jeda reflektif. Algoritma media sosial mempercepat normalisasi ujaran kebencian melalui logika “kami versus mereka”.
“Akibatnya, kekerasan tidak lagi dipahami sebagai penyimpangan, tetapi menjadi bagian dari rutinitas digital,” jelasnya.
Radius mengatakan penanganan persoalan ini tidak bisa berhenti pada sensor dan pelarangan konten semata. Dia menilai sensor hanya bekerja di permukaan, sementara kekerasan digital bergerak dengan tempo distribusi informasi yang jauh lebih cepat.
“Langkah krusialnya adalah memperlambat arus digital melalui literasi digital yang bersifat reflektif. Literasi digital bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi kemampuan membaca, menunda, dan menilai makna sebelum bereaksi,” tuturnya.
Dia juga menekankan pentingnya menciptakan jeda berpikir (reflective pause) agar anak tidak langsung terseret logika viralitas dan emosi instan di ruang digital.











































