William Heinrich: Target 8 Persen Bukan Ambisi Tetapi Kebutuhan Strategis

4 hours ago 18

 Target 8 Persen Bukan Ambisi Tetapi Kebutuhan Strategis

Facebook JPNN.com LinkedIn JPNN.com Whatsapp JPNN.com Telegram JPNN.com

Bakal calon Ketua Umum BPP HIPMI, William Heinrich. Foto: Source for jpnn

jpnn.com, JAKARTA - Gagasan HIPMI 8 persen yang diusung bakal calon Ketua Umum BPP HIPMI, William Heinrich, dinilai memiliki titik temu yang kuat dengan pendekatan strategis pemerintahan di bawah Prabowo Subianto. Titik temu itu khususnya dalam kerangka kerja yang diorkestrasi oleh Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya.

Dalam konferensi pers yang digelar di SCBD, Jakarta Selatan, William Heinrich menegaskan bahwa target pertumbuhan ekonomi 8 persen bukan sekadar ambisi, melainkan kebutuhan strategis untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan middle income trap. Ia menilai bahwa negara tidak dapat bekerja sendiri mengingat keterbatasan ruang fiskal.

“Target pertumbuhan ekonomi 8 persen bukan sekadar ambisi, melainkan kebutuhan strategis untuk membawa Indonesia keluar dari jebakan middle income trap,” ujar William dalam konferensi pers tersebut.

Ia menambahkan bahwa diperlukan peran aktif pengusaha muda sebagai penggerak utama sektor riil. Pendekatan tersebut dinilai selaras dengan karakter kebijakan yang melekat pada Teddy Indra Wijaya, yang dikenal mengedepankan pola pikir militer-strategis dan berorientasi pada eksekusi.

William menawarkan HIPMI sebagai engine of growth yang mampu mengisi ruang kolaborasi tersebut. Ia mendorong transformasi organisasi dari sekadar wadah jaringan menjadi mesin produktivitas nasional yang berorientasi pada penciptaan nilai tambah.

Salah satu titik temu paling kuat terlihat pada isu efisiensi ekonomi. William menyoroti tingginya rasio ICOR sebagai indikator pemborosan dalam penggunaan modal dan menawarkan solusi melalui peningkatan Total Factor Productivity (TFP). Langkah ini mencakup digitalisasi usaha, adopsi teknologi, serta efisiensi rantai pasok.

Di sisi lain, dalam konteks fiskal, gagasan William mengenai perluasan basis pajak melalui penciptaan lapangan kerja formal dinilai memperkuat agenda pemerintah. Pendekatan ini dinilai kompatibel dengan kebutuhan negara untuk menjaga keseimbangan antara daya beli masyarakat dan peningkatan penerimaan negara.

Tidak hanya itu, konsep HIPMI Capital Desk yang ditawarkan William juga disebut memperlihatkan keselarasan dengan arsitektur pembiayaan nasional. Dengan menyiapkan pengusaha muda agar bankable dan memenuhi standar tata kelola (ESG), HIPMI dinilai berpotensi menjadi mitra strategis dalam penyerapan investasi, termasuk dari lembaga seperti Danantara.

William Heinrich sebut target 8 persen kebutuhan strategis, dinilai sejalan pendekatan Seskab Teddy Indra Wijaya.

JPNN.com WhatsApp

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Read Entire Article
| | | |