jpnn.com, PALEMBANG - Di bawah naungan pohon Kamboja yang merunduk di TPU Puncak Sekuning, jemari Eti (21) dengan lincah menata kelopak mawar, melati dan irisan pandan ke dalam plastik-plastik kecil.
Bagi sebagian orang, aroma ini adalah tanda duka. Namun, bagi Eti inilah aroma kehidupan yang telah menghidupi keluarganya selama lebih dari setengah abad.
Eti bukan sekadar pedagang musiman. Ia adalah pewaris estafet tradisi yang dimulai oleh orang tuanya sejak tahun 1971.
Di usianya yang masih muda, ia memilih setia meneruskan usaha turun-temurun ini, menjaga denyut nadi tradisi ziarah di salah satu pemakan tertua di Palembang.
Menjelang bulan suci Ramadan, suasana makam yang bausanya sunyi berubah drastis. Peziarah datang silih berganti mengirim doa, dan di sanalah Eti berdiri.
"Kalau sudah dekat puasa begini pembeli mulai ramai. Nanti ramai kembali tiga hari sebelum lebaran hingga hari H Idulfitri," ungkap Eti sembari melayani pembeli, Senin (16/2/2026).
Pada hari-hari biasa penjualan mungkin tak seberapa. Namun, saat momen "lebaran" kembang Eti bisa terjual 500 kantong dalam sehari. Sebuah angka yang fantastis, mengingat, tiap kantongnya dibanderol dengan harga terjangkau Rp 5.000.
"Satu kantong Rp 5.000, tetapi kalau beli 3 kantong Rp 10.000," kata Eti.









































