jpnn.com, JAKARTA - Anggota Komisi X DPR RI Andi Muawiyah Ramly merasa prihatin dengan menyeruaknya video di media sosial yang merakam seorang guru dan sejumlah murid saling baku hantam.
"Itu sama sekali bukan cerminan akhlak pendidikan yang baik. Tidak tampak adanya empati, akhlak, dan solidaritas yang seharusnya tercermin di dunia pendidikan kita," kata Amure sapaan Andi Muawiyah Ramly kepada awak media, Kamis (15/1).
Legislator fraksi PKB itu menuturkan sekolah seharusnya menjadi tempat aman untuk membangun karakter.
Sekolah, kata Amure, bukan arena pelampiasan emosi atau konflik yang berujung kekerasan antara guru dan murid.
Namun, kata dia, kasus perkelahian guru dan sejumlah murid menjadi alarm keras bagi semua bahwa negara jangan hanya mengejar akademik dalam pendidikan.
"Harus serius membangun karakter, kecerdasan emosional, dan etika digital. Jika ruang kelas kehilangan nilai kemanusiaan dan kebijaksanaan, maka yang kita wariskan adalah kegagalan,” katanya.
Amure di sisi lain juga menyoroti aspek etika penggunaan gawai dan media sosial dalam insiden tersebut.
Dia menyayangkan adanya pihak yang merekam dan menyebarluaskan peristiwa kekerasan di lingkungan sekolah.














































