jpnn.com - Bagi sebagian besar masyarakat, energi bukanlah isu teknologi atau target jangka panjang. Energi hadir dalam pengalaman yang sangat sederhana dan sehari hari. Lampu menyala atau padam. Listrik stabil atau sering terganggu.
Harga bahan bakar dapat diprediksi atau berubah mendadak. Dari pengalaman inilah publik membentuk penilaian yang jauh lebih luas, bukan hanya tentang kebijakan energi, tetapi tentang kemampuan negara mengelola hal yang paling mendasar.
Di titik ini, transisi energi tidak bisa dipahami semata sebagai agenda teknis. Ia adalah ujian kepercayaan publik. Negara meminta masyarakat menerima perubahan hari ini demi manfaat jangka panjang, seperti keberlanjutan lingkungan, ketahanan energi, dan daya saing ekonomi.
Permintaan tersebut hanya masuk akal jika publik percaya bahwa negara mampu menjaga keandalan sistem, membagi beban secara adil, dan menjalankan kebijakan secara konsisten. Tanpa kepercayaan, transisi energi akan selalu rapuh, betapapun baik niat dan desain kebijakannya.
Selama puluhan tahun, kepercayaan publik terhadap kebijakan energi di banyak negara berkembang dibangun melalui satu pendekatan utama, yaitu energi yang terjangkau. Harga yang relatif stabil dipandang sebagai bukti kehadiran negara dan perlindungan terhadap masyarakat.
Dalam konteks tertentu, pendekatan ini berhasil menjaga stabilitas sosial dan ekonomi. Namun seiring waktu, ia juga melahirkan persoalan struktural yang jarang dibicarakan secara terbuka.
Energi yang tampak murah sering kali dibayar dengan cara lain. Tekanan terhadap anggaran negara meningkat. Investasi jaringan dan pemeliharaan sistem tertunda. Utilitas energi kehilangan ruang untuk memperkuat kapasitasnya. Dalam jangka pendek, semua ini tidak selalu terlihat.
Namun, ketika permintaan energi tumbuh, teknologi berubah, dan tekanan global meningkat, kerentanan sistem muncul ke permukaan. Pada saat itulah kepercayaan publik mulai diuji.










































