jpnn.com, JAKARTA - Wilayah Jakarta Barat belakangan ini menjadi sorotan menyusul maraknya kasus aksi begal yang meresahkan warga. Kejahatan yang terjadi di jalanan maupun lingkungan pemukiman ini tak hanya merugikan secara materi, namun juga menimbulkan rasa cemas dan ketidakamanan di hati masyarakat.
Melihat kondisi yang makin mengkhawatirkan ini, Umar Abdul Aziz, seorang tokoh pemuda yang dikenal aktif memperhatikan kesejahteraan lingkungan di Jakarta Barat, angkat bicara dan memberikan perhatian serius terhadap persoalan keamanan tersebut.
Menurut Umar, maraknya aksi begal yang terjadi belakangan ini menandakan adanya celah keamanan yang harus segera ditutup. Dia menilai bahwa keamanan lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat kepolisian semata, melainkan juga tugas bersama seluruh elemen masyarakat, mulai dari warga, tokoh masyarakat, hingga pemuda.
Atas dasar keprihatinan tersebut, Umar menyarankan agar seluruh lapisan masyarakat segera menggerakkan kembali Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) secara aktif, serta memperkuat koordinasi dan kerja sama dengan Polres Metro Jakarta Barat.
Langkah ini dinilainya sebagai upaya taktis yang sangat krusial dan strategis untuk mempersempit ruang gerak para pelaku kejahatan, sehingga lingkungan pemukiman dapat kembali menjadi tempat yang aman, nyaman, dan tenteram bagi seluruh warga.
Lebih jauh lagi, Umar juga memaparkan serangkaian tindakan nyata dan langkah strategis yang dapat dilakukan oleh para tokoh masyarakat dan warga sekitar dalam upaya mengatasi dan menekan angka kejahatan, khususnya aksi begal, di wilayah Jakarta Barat.
Langkah-langkah tersebut disusun secara terperinci dan menyeluruh, mencakup berbagai aspek mulai dari pengamanan fisik, sinergi dengan aparat, peningkatan kesadaran warga, hingga perbaikan fasilitas umum di lingkungan sekitar.
Langkah pertama yang menjadi fokus utama adalah pengaktifan kembali dan penguatan sistem keamanan lingkungan atau Siskamling. Umar menekankan bahwa kehadiran warga yang berjaga merupakan benteng pertahanan paling depan dalam mencegah kejahatan. Salah satu caranya adalah dengan mengaktifkan kembali sistem ronda malam secara rutin dan terjadwal.
"Jadwal penjagaan harus disusun sedemikian rupa agar mencakup jam-jam yang dianggap paling rawan terjadinya kejahatan, yaitu mulai tengah malam hingga menjelang waktu subuh, ketika aktivitas warga mulai sepi dan suasana lingkungan cenderung sepi, " kata Umar, Jumat (22/5).
Selain itu, penerapan sistem satu pintu atau One Gate System juga disarankan untuk diterapkan di setiap wilayah perumahan maupun lingkungan Rukun Warga (RW) pada malam hari. Dengan membatasi akses keluar-masuk lingkungan hanya melalui satu titik yang diawasi, maka pengawasan menjadi lebih mudah dilakukan dan pergerakan orang asing yang mencurigakan dapat segera diketahui dan ditelusuri.
Tak kalah penting, Umar juga mengajak semangat gotong royong warga untuk bekerja sama memasang kamera pengawas atau CCTV secara swadaya. Alat perekam ini sangat berguna jika dipasang di titik-titik buta atau sudut tersembunyi, serta di setiap akses utama keluar-masuk kampung, guna merekam segala aktivitas yang terjadi dan menjadi bukti jika hal buruk terjadi.
Keamanan yang kokoh juga memerlukan kerja sama yang erat dan sinergi yang baik antara warga dengan aparat penegak hukum. Umar mengingatkan pentingnya menjalin komunikasi yang intensif dan berkelanjutan dengan petugas Bhabinkamtibmas dan Babinsa yang bertugas di wilayah masing-masing.

.jpeg)
































