jpnn.com - Di tengah tren sertifikasi online, webinar, dan pelatihan kompetensi yang masif, banyak perusahaan masih menganggap pengembangan karyawan identik dengan ruang kelas.
Padahal, realitas dunia kerja modern menunjukkan sesuatu yang berbeda: sebagian besar kemampuan profesional justru berkembang melalui pengalaman langsung di lapangan, interaksi sosial, dan tantangan kerja sehari-hari.
Konsep ini dikenal melalui prinsip 70:20:10, sebuah model pengembangan karyawan yang pertama kali dipopulerkan oleh peneliti dari Center for Creative Leadership, yaitu Morgan McCall, Robert Eichinger, dan Michael Lombardo.
Model ini menyebutkan bahwa sekitar 70 persen pembelajaran berasal dari pengalaman kerja langsung (experiential learning), 20% dari interaksi sosial seperti mentoring dan feedback, dan hanya 10% dari pelatihan formal seperti kelas, seminar, atau kursus (Coleman, 2026).
Fenomena ini makin relevan di era kerja yang bergerak cepat. Perusahaan tidak lagi hanya membutuhkan karyawan yang memiliki sertifikat, tetapi individu yang mampu beradaptasi, menyelesaikan masalah nyata, dan belajar secara mandiri di tengah perubahan.
Masalahnya: Banyak Perusahaan Masih Terjebak di “10%” Tidak sedikit organisasi yang masih mengalokasikan sebagian besar anggaran pengembanganSDM pada pelatihan formal. Webinar rutin, workshop internal, hingga kelas sertifikasi dianggap sebagai solusi utama untuk meningkatkan kompetensi karyawan.
Padahal, penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran formal hanyalah sebagian kecil dari proses pengembangan profesional.
Model 70:20:10 menegaskan pelatihan formal penting sebagai fondasi, tetapi tidak cukup jika tidak disertai praktik nyata dan lingkungan kerja yang mendukung pembelajaran sehari-hari (Gerpe, 2026; Harding 2021).







































