jpnn.com - Kita semua patut menundukkan kepala, karena ada seorang Siwa Kelas IV SD Negeri di Kabupaten Ngada, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) gantung diri hanya karena ibunya tak sanggup lagi membeli buku tulis dan pulpen.
Kalau setelah lebih dari 80 tahun merdeka ternyata ada anak berusia 10 tahun gantung diri karena miskin, itu tamparan yang amat keras di wajah bangsa ini.
Kita semua patut merasa bersalah dan berdosa. Sebab di tengah kenyamanan hidup di kota-kota besar, Yohanes Bastian Roja (YBR) menegur kita dengan cara mencabut nyawanya sendiri, sebab tiada lagi tempat mengadu, tiada lagi cara lain untuk ia menyampaikan keluhannya.
Kalau anak sekecil itu begitu peduli pada penderitaan ibunya — seorang janda yang bersusah payah menghidupi lima anak hanya dengan berjualan kayu bakar — sehingga ia tak tega membebani ibunya lantas mengakhiri hidupnya, di mana kepekaan dan kesalehan sosial kita; di mana manifestasi keimanan kita; di mana kepala desa, camat, bupati, gubernur, menteri-menteri, anggota-anggota legislatif; mata kita semua tertuju ke mana?
YBR bagaikan puncak gunung es di tengah lautan penderitaan rakyat kecil yang terlupakan dan tak berdaya, yang hanya bisa menonton pameran kemewahan di bangsa ini.
YBR adalah raungan dan jeritan senyap penderitaan rakyat miskin di daerah tertinggal, yang lazim dianggap lumrah.
Andai tak terjadi tragedi itu, tak muncul pula kepedulian tulus terhadap nasib ribuan bahkan jutaan warga bangsa yang hanya bisa bermimpi tentang pemerataan hasil-hasil pembangunan.
Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah telah menjalankan berbagai program pengentasan kemiskinan dan jumlah warga miskin pun kabarnya berkurang.









































