jogja.jpnn.com, YOGYAKARTA - Pusat Studi Transportasi dan Logistik (Pustral) Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi menginisiasi gerakan Kawasan Rendah Emisi (KRE) di jantung budaya Kota Yogyakarta. Langkah ini ditandai dengan deklarasi yang digelar di kawasan cagar budaya Jeron Beteng pada Minggu (1/2).
Penerapan prinsip KRE ini bukan sekadar seremoni. Tujuannya sangat konkret, yaitu menekan dampak kerusakan lingkungan, memperbaiki kualitas udara yang kian terbebani polusi, serta menata sistem transportasi agar lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Pemilihan kawasan Jeron Beteng sebagai lokasi percontohan (pilot project) bukan tanpa alasan. Mantan Ketua Pustral UGM Ikaputra menjelaskan bahwa status cagar budaya memberikan kekuatan branding yang besar.
“Cagar budaya menjadi branding karena daya tarik wisatanya. Namun, bukan berarti tempat lain tidak butuh. Justru sangat butuh, tetapi cagar budaya bisa menjadi teladan karena sudah dikenal luas,” ujar Ikaputra.
Ia berharap semangat yang dimulai dari dalam benteng ini dapat segera menular ke wilayah-wilayah lain di Yogyakarta hingga skala nasional.
Ikaputra menekankan bahwa keberhasilan KRE sangat bergantung pada sinergi tiga pilar utama.
Pemerintah sebagai regulator kebijakan, masyarakat sebagai pelaku perubahan gaya hidup, dan keraton Yogyakarta sebagai pemangku wilayah dan nilai budaya.
Mengingat sektor transportasi di perkotaan merupakan penyumbang emisi karbon terbesar, inisiasi lokal seperti ini dianggap sebagai kunci penting bagi Indonesia untuk berkontribusi dalam pengurangan emisi global.










































