jpnn.com, YOGYAKARTA - Filsuf Rocky Gerung melontarkan kritik tajam terhadap kebijakan pendidikan dan anggaran negara dalam forum Public Lecture Series 002 yang digelar Pandu Negeri di Embung Giwangan, Yogyakarta, Senin (16/2). Diskusi yang mengusung isu pendidikan, keadilan, dan hak generasi itu berlangsung dengan dihadiri ratusan mahasiswa dan pelajar.
Rocky membuka orasi intelektualnya dengan sindiran khasnya. "Tongkat kayu dan batu jadi tanaman... Tukang kayu sebentar lagi jadi tahanan," ujarnya yang memecah tawa namun sekaligus keheningan audiens. Ia menyebut narasi bonus demografi sebagai omong kosong jika melihat realitas alokasi dana pendidikan.
"Normanya adalah 20 persen untuk pendidikan. Faktanya? Diambil untuk Dana Desa. Dana Desa pindah jadi Makan Bergizi Gratis (MBG). MBG berubah jadi kaus. Kaus pindah ke UNICEF sebagai laporan stunting. It is a crime! Itu pelanggaran hak," tegas Rocky dalam acara yang ditayangkan secara langsung di kanal YouTube.
Menurut Rocky, generasi muda saat ini sedang diwariskan apa yang ia sebut sebagai "air kotor" dari kebijakan ekonomi-politik satu dekade terakhir. Ia mengibaratkan posisi Presiden Prabowo Subianto saat ini sedang terendam hingga sedagu. "Dua senti saja Prabowo menunduk, air kotor sepuluh tahun itu masuk ke hidungnya. Tenggelam dia," tambahnya.
Kritik Rocky mendapat resonansi dari para penanggap yang berasal kalangan pelajar dan guru. Otniel Rahadianta Sembiring, perwakilan Forum Komunikasi Pengurus OSIS (FKPO) Yogyakarta, mengungkapkan kegelisahannya. "Kami sebagai generasi baru seharusnya membawa ide-ide baru ke dalam demokrasi, tetapi kami dibungkam semena-mena. Sistem yang ada terlalu rigid bagi kami," curhat Otniel.
Keresahan serupa disampaikan Ismi Fajarsih, Ketua MGMP Bahasa Inggris DIY. Ia mengkritik kebijakan pendidikan yang kerap berubah tanpa kajian mendalam. "Kita itu sukanya kasih parasetamol, memberikan masking effect. Penyakitnya hilang sebentar, tapi kita tidak tahu sebab aslinya apa," ujar Ismi.
Diskusi semakin memanas saat ekonom Rimawan Pradiptyo dan sosiolog pendidikan Prof. Sugeng Bayu Wahyono turut berbicara. Rimawan menceritakan pengalamannya dalam berbagai satgas yang selalu sukses secara data namun dimatikan saat mulai menyentuh kepentingan elit. Ia menyebut fenomena itu sebagai institutional decay atau pembusukan kelembagaan.
Sementara itu, Rocky Gerung kembali melontarkan sindiran dengan perspektif historis. Ia membandingkan semangat pendidikan pasca-Revolusi Prancis yang lahir dari solidaritas dengan kondisi di Indonesia. "Di Indonesia, yang terjadi bukan Ing Ngarso Sung Tulodo, tapi Ing Ngarso Sung Korupsi. Bukan Tut Wuri Handayani, tapi Tut Wuri Malsuin Ijazah," sindirnya, merujuk pada maraknya skandal ijazah di dunia akademik.








































