jpnn.com, JAKARTA - Pengamat politik dari Universitas Udayana, Efatha Filomeno Borromeu Duarte, menilai penembakan terhadap para guru di Sekolah Yakpesmi Distrik Dekai, Yahukimo, Papua Pegunungan bukan lagi insiden keamanan biasa, melainkan indikator strategis pergeseran konflik yang mengancam ketahanan negara Indonesia dari dalam.
Dia mengatakan kekerasan terhadap tenaga pendidik harus dibaca sebagai operasi psikologis terencana, bukan reaksi spontan konflik bersenjata.
“Dalam analisis intelijen, ketika guru dijadikan target, itu menandakan fase konflik telah bergeser ke delegitimasi negara. Yang diserang bukan aparat, melainkan kepercayaan publik dan keberlanjutan fungsi negara,” ujar Efatha kepada media, Selasa (10/2).
Menurutnya, guru merupakan sasaran berbiaya rendah, tetapi berdampak tinggi dan langsung terasa.
Dia menjelaskan hal ini menimbulkan ketakutan sosial, lumpuhnya layanan pendidikan, serta melemahnya kehadiran negara di tingkat paling dasar.
“Ini bukan perang senjata, melainkan perang persepsi. Pesan yang dikirim jelas, negara dianggap tidak mampu melindungi fungsi dasarnya,” katanya.
Efatha juga menyoroti narasi yang menyebut para guru sebagai mata-mata.
Dia menilai tuduhan tersebut sebagai bagian dari operasi informasi untuk menciptakan ambiguitas moral dan membingungkan opini publik internasional.










































