jpnn.com - ESKALASI konflik yang mencapai puncak dengan perang Amerika-Israel vs Iran di Timur Tengah bukan hanya berdampak terhadap kawasan teluk, tetapi membawa implikasi global karena tersendatnya pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang melewati Selat Hormuz.
Indonesia yang selama ini tergantung impor BBM tidak luput dari implikasi geopolitik ini. Peristiwa ini juga menunjukkan tingkat ketahanan atau kerentanan energi sebuah negara termasuk Indonesia.
Kalau tidak dikelola, krisis energi berada di depan mata, karena cadangan yang semakin menipis.
Peristiwa ini juga membuka terang benderang bagaimana skema impor BBM selama ini. Menteri ESDM Bahlil mengungkapkan kalau dua kapal tanker ditarik pihak pengimpor dari Singapura.
Di sini, muncul pertanyaan awam yang sangat sederhana, bagaimana menjelaskan bahwa selama puluhan tahun Indonesia mengimpor BBM dari negara kecil tanpa sumber minyak seperti Singapura.
Artinya, Singapura bukan benar-benar sebagai eksportir, tetapi sekadar broker yang hanya bermodalkan jaringan dan perusahaan di atas kertas.
Masalah fundamental tata kelola migas kita selama ini adalah transparansi dalam skema impor. Struktur impor yang mengandalkan broker di pasar spot Singapura telah menciptakan biaya siluman yang membebani APBN.
Broker-broker ini seringkali bukan entitas pemilik aset, melainkan perusahaan di atas kertas yang memanfaatkan celah informasi antara produsen minyak mentah dan kebutuhan domestik Indonesia.











































