jpnn.com, JAKARTA - Pemerintah didorong memperkuat disiplin fiskal, mengoptimalkan diplomasi ekonomi, dan mempercepat transformasi sektor riil guna menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah meningkatnya beban utang dan ketidakpastian ekonomi global.
Anggota Komisi XI DPR Kamrussamad mengatakan langkah diplomasi ekonomi perlu diperkuat, terutama untuk menegosiasikan suku bunga dan tenor pinjaman dengan kreditur internasional agar tekanan terhadap ruang fiskal APBN dapat diminimalkan.
“Diplomasi diperlukan untuk menegosiasikan kembali suku bunga serta tenor pinjaman, mengingat kondisi ekonomi global saat ini penuh ketidakpastian,” kata Kamrussamad dalam keterangannya, Kamis (18/6).
Kamrussamad juga menekankan pentingnya menjaga disiplin fiskal, termasuk memastikan defisit anggaran tetap berada dalam batas maksimal 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dia optimistis kondisi ekonomi akan membaik seiring meningkatnya penyaluran kredit kepada dunia usaha.
Di sisi lain, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai pelemahan rupiah dalam satu dekade terakhir mencerminkan tantangan struktural ekonomi yang masih perlu dibenahi.
Namun, dia menilai pemerintah telah memperkuat fondasi ekonomi melalui pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan infrastruktur yang mendukung pertumbuhan industri manufaktur serta peningkatan konektivitas.
Menurut Fakhrul, konektivitas yang semakin baik membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha daerah untuk menembus pasar ekspor.








































